Jumat, 27 Juli 2012

MEMAYU HAYUNING BAWONO (SUATU CONTOH AJARAN KEPEMIMPINAN)



Oleh : KPH. H. Anglingkusumo

Pada masa sekarang ini, seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang mempunyai pola kepemimpinan yang memiliki jiwa Pancasila. Maksudnya kepemimpinan yang memiliki jiwa pancasila,memiliki wibawa dan daya atau kemampuan untuk membawa serta memimpin masyarakat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Seorang pemimpin haruslah dapat bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun dan membimbing orang-orang yang di pimpinnya. Dengan perkataan lain, beberapa prinsip utama dari kepemimpinan Pancasila adalah :
  1. Ing ngarsa sung tulodo yang berarti seorang pemimpin harus mampu baik lewat sikap dan perhatiannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya.
  2. Ing madya mangun karsa yang berarti bahwa seorang pemimpin harus mampu memdorong / membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya.
  3. Tut wuri handayani yang berarti bahwa seorang pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang dipimpinnya agar berani berjalan atau tampil kedepan dan sanggup bertanggung jawab.
Dalam dunia pewayanganpun ada beberapa ajaran kepemimpinan atau disebut juga “Ajaran Utama Alamiah“. Ada 8 buah ajaran kepemimpinan ini dan oleh karenanya disebut dengan “Hasta Brata”. Hastabrata adalah salah satu terjemahan dari ajaran Memayu Hayuning Buwono. Menurut buku kamus KAWI-JAWA tulisan C.F.WINTER : Mayu berarti : memperindah ;  Hayu = bagus, baik, indah ;  Buwono = dunia. Jadi menurut saya Mamayu Hayuning Buwono berarti kita berkewajiban untuk selalu membenarkan dan mengindahkan, memperbaiki / memperindah dan melestarikan hidup dan penghidupan yang serba baik dan indah, segala isinya bumi. Atau MEMAYU HAYUNING BAWONO ini saya terjemahkan dengan kata-kata sederhana yaitu Memperindah indahnya dunia. Dunia ini kan sudah indah,maka hendaknya janganlah dikotori dengan perbuatan yang neko-neko, terlebih-lebih merusak.
Dalam dunia pewayangan MEMAYU HAYUNING BAWONO ini merupakan sublimasi dari ajaran utama di dalam kehidupan manusia yang disebut dengan “HASTA BRATA”.
Adapun HASTA BRATA ini mempunyai watak (sifat) 8 macam yang dipakai sebagai acuan tentang bagaimana seharusnya orang berperilaku utama, antara lain sbb :
  1. WATAK MATAHARI : Matahari mempunyai sifat panas, penuh energi dan pemberi daya hidup. Artinya : bahwa setiap umat terlebih-lebih tokoh atau pimpinan tak terkecuali tokoh agama, harus dapat berfungsi laksana matahari yaitu dapat memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan atau kepada anak buah yang dipimpinnya.
  2. WATAK BULAN : Bulan mempunyai wujud indah dan menerangi dalam kegelapan. Artinya : bahwa kita harus dapat berfungsi laksana bulan yaitu dapat menyenangkan dan memberi terang dalam kegelapan bagi mereka yang membutuhkan.
  3. WATAK BINTANG : Bintang mempunyai bentuk yang indah dan menjadi hiasan diwaktu malam yang sunyi serta mempunyai sifat menjadi kompas pedoman bagi mereka yang kehilangan arah. Artinya : bahwa kita harus dapat berfungsi laksana bintang yaitu bertaqwa dan dapat menjadi contoh tauladan serta dapat menjadi pedoman (panutan) bagi anak buahnya, dapat menjadi kompas (petunjuk arah) bagi mereka yang membutuhkan.
  4. WATAK ANGIN : Angin mempunyai sifat mengisi setiap ruangan yang kosong walaupun tempat rumit sekalipun. Artinya : kita harus dapat berfungsi laksana angin yaitu dapat melakukan tindakan yang teliti, cermat, mau berincoqnito/turun kelapangan untuk menyelami kehidupan masyarakat bawah.
  5. WATAK MENDUNG : Mendung mempunyai sifat menakutkan (wibawa) tetapi sesudah menjadi air (hujan) dapat menghidupkan segala yang tumbuh. Artinya : bahwa kita harus dapat berfungsi laksana mendung yaitu berwibawa tetapi dalam tindakannya harus dapat memberi manfaat bagi sesamanya.
  6. WATAK API : Api mempunyai sifat tegak dan sanggup membakar apa saja yang bersentuhan dengannya. Artinya : kita harus dapat berfungsi laksana api yaitu dpat bertindak tegas, bertindak adil, mempunyai prinsip tanpa pandang bulu.
  7. WATAK SAMUDRA : Samudra mempunyai sifat luas, rata, berbobot. Artinya : kita harus dapat berfungsi laksana samudra yaitu mempunyai pandangan yang luas, rata dan sanggup menerima persoalan apapun dan tidak boleh membenci terhadap sesame.
  8. WATAK BUMI : Bumi mempunyai sifat sentosa dan suci. Artinya : kita harus dapat berfungsi laksana bumi yaitu sentosa budinya dan jujur serta mau memberi anugerah kepada siapa saja yang telah berjasa terhadap tanah air dan bangsa.
Demikianlah kedelapan azas dalam “HASTA BRATA” yang mempunyai makna bahwa setiap orang/pimpinan apabila tidak melaksanakan HASTA BRATA berarti pimpinan yang tidak bermahkota. Tetapi sebaliknya walaupun rakyat jelata namun dalam hidupnya melaksanakan 8 azas HASTA BRATA ini berarti Manusia Yang Bermahkota (Berbudi Luhur).
Ajaran Hasta Brata dalam serat Ajipamasa:
Ø  Watak Surya (Srengenge) : Sareh sabareng karsa, rereh ririh ing pangarah.
Ø  Watak Candra (Rembulan) : Noraga met prana, sareh sumeh ing netya, alusing budi jatmika, prabawa sreping bawana.
Ø  Watak Sudama (Lintang) : Lana susila santosa, pengkuh lan kengguh andriya. Nora lerenging ngubaya, datan lemeren ing ngarsa. Pitayan tan samudana, setya tuhu ing wacana, asring umasung wasita. Sabda pandhita ratu tan kena wola wali.
Ø  Watak Maruta (Angin) : Teliti setiti ngati-ati, dhemen amariksa tumindake punggawa kanthi cara alus.
Ø  Watak Mendhung : Bener sajroning paring ganjaran jejeg lan adil paring paukuman.
Ø  Watak Dahana (Geni) : Dhemen reresik regeting bawana. Kang arungkut kababadan, kang apeteng pinadhangan.
Ø  Watak Tirta (Banyu/samodra) : Tansah paring pangapura, adil paramarta. Basa angenaki krama tumraping kawula.
Ø  Watak Pratala (Bumi) : Tansah adedana lan karem paring bebungah marang kawula.
Disini saya contohkan sebagai tokoh wayang yang buruk parasnya, perut buncit, kakinya pendek, kepalanya besar dan gundul, kulitnya hitam, matanya menonjol, siapakah dia? Dialah yang bernama “SUKROSONO” Tetapi Tuhan Maha Adil dibalik wajah dan segalanya yang serba buruk itu terpancar daya tarik yang membuat setiap orang asih kepadanya BURUK LAHIRIAHNYA, TETAPI BERSIH BATINNYA, POLOS DAN APA ADANYA.
Ada satu contoh lagi yaitu MAHA PATIH SUWONDO dari Mahespati, terkenal dengan sebutan : “NUHONI TRAH UTOMO” menepati janji utama.
Oleh karena itu kami mengajak kepada seluruh masyarakat agar kita tidak terseret arus perkembangan zaman yang bersifat hedonistic, hanya mengejar kepuasan bahwa nafsu semata. Sebab kalau kita sampai terseret arus perkembangan ini, pasti bukan kebahagiaan yang kita dapatkan, melainkan kenestapaan dan kehancuran yang kita jumpai. Karena kepuasan hawa nafsu itu hanya relative dan bersifat sesaat. Puas sebentar kemudian muncul keinginan yang lain lagi dan begitu seterusnya. Tak ada kepuasan hawa nafsu yang bertahan lama.
Sedangkan Islam mengajarkan kepada kita agar memiliki jiwa yang tenang, hati yang tenteram dan pribadi yang istiqomah. Jiwa, hati dan pribadi seperti ini hanya dapat diperoleh melalui dzikrullah : ala bidzikirllahi tatma’innulqulub. Karena itulah, mudah-mudahan melalui majelis-majelis dzikir jiwa kita yang sering gelisah akan menjadi tenang, hati kita yang sering resah akan menjadi tenteram dan pribadi kita yang sering tak terkendali akan menjadi istiqomah dalam keimanan dan ketaqwaan. Amin…amin ya robbal alamin.  
Terkait dengan pemilihan umum nanti, minimal kita tidak keliru dan terjebak dalam memilih siapa wakil rakyat dan siapa presiden dan wapres kita nanti? Jika kita salah dan tidak cermat dalam memilih, maka kita akan menjadi qurban dari pemimpin dan kepemimpinan yang kita pilih untuk lima tahun kedepan. Sebab itu perlu dihindari pengurbanan idealisme hanya karena uang atau jabatan yang diberikan maupun yang dijanjikan. Sogok menyogok dalam hal-hal yang kecil maupun yang besar apalagi urusan besar menentukan wakil rakyat, pemimpin dan kepemimpinan nasional harus benar-benar cermat, dihindari dan dijauhkan dari hal-hal seperti tsb diatas (money politic). Arrasyi walmurtasyi finnaar yang menyogok dan yang disogok neraka tempatnya.
Pemimpin dan kepemimpinan yang terbentuk akibat proses yang tidak sehat tentu akan menimbulkan pemimpin dan kepemimpinan yang tidak barokah. Pemimpin dan kepemimpinan yang tidak barokah akan ditandai dengan adanya korupsi besar-besaran yang terjadi di negeri ini. Munculnya bencana alam yang bertubi-tubi. Timbulnya pemutusan hubungan kerja besar-besaran diberbagai sector merupakan akibat dari system keuangan nasional dan global yang masih sangat bersahabat dekat dan berbau riba. Berbagai macam kondisi buruk tersebut ujung-ujungnya adalah menimbulkan kesulitan-kesulitan baru bagi kehidupan warga masyarakat secara meluas. Oleh sebab itu janganlah semata-mata menyalahkan mereka yang sudah terpilih dengan proses yang tidak sehat tadi. Apabila kita menunjuk jari kita kepada orang lain maka tiga jari yang lain menunjuk pad kita sendiri. Jadi sadarlah bahwa untuk kesemua itu kitalah juga yang menjadi penyebabnya. Pertanyaannya : sampai kapan kita akan bertahan dan mempertahankan kekeliruan sikap dan pilihan-pilihan yang salah sehingga selalu menimbulkan kesulitan-kesulitan baru atau keterpurukan. Sampai kapan kita bisa mengakhiri sejarah hidup yang tidak barokah ini ? Bagaimana langkah-langkah nyata untuk menghentikan berbagai macam kondisi buruk ini ?
Barangkali disana ada jawaban,                                          Ebiet G Ade
Mengapa di tanahku terjadi bencana,
Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita,
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa,
atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita,
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.
Untuk mengupayakan dan meminimalkan warga masyarakat yang menjadi kurban system pengelolaan Negara ini bisa dilakukan dengan beberapa langkah. Pertama harus ditumbuhkan kesadaran bahwa kita terlalu sering salah dalam melangkah dan menentukan pilihan-pilihan dalam hidup ini. Kesalahan itu tentu terjadi karena adanya ketidakmampuan memahami persoalan yang dihadapi. Ketidakmampuan memahami persoalan disebabkan oleh tidak adanya ilmu yang cukup pada diri masing-masing warga pada umumnya. Sebab itu sebagai langkah berikutnya, kita harus secara serempak dan kompak mengusahakan peningkatan keilmuan dan pemahaman warga atas persoalan yang dihadapi tersebut. Berbagai macam pertemuan yang sifat dan fungsinya meningkatkan keilmuan warga harus dilakukan terus menerus dan terarah. Al’ilmu miftahul jannah, ilmu itu sebagai kuncinya untuk mendapatkan surga. Untuk mendapakan surganya birokrasi dan kepemimpinan yang baik, kita harus memiliki pemimpin dan kepemimpinan yang baik. Caranya lakukan dalam pemilu nanti dengan sikap yang bijak dan tegas didasari pemahaman yang kuat dan informasi yang akurat, sehingga kita tidak salah pilih.
Demikian kira-kira apa yang dapat kami sampaikan disini semoga dapat bermanfaat dan dapat menjadi bahan renungan serta bahan introspeksi / mawas diri guna menemukan kearifan-kearifan yang relevan bagi masa kini untuk menjawab tantangan-tantangan yang kita hadapi bagi masa depan didalam meniti karier untuk selalu meraih kehidupan yang lebih baik.


(Sudah dimuat di Koran Harian Kedaulatan Rakyat, Minggu Pon, 25 Januari 2009)




                                 


Dari Angka Biasa Jadi Angka Keramat


Oleh : KPH. H. Anglingkusumo

 Sebelum hari keramat itu terjadi, angka 17, 8 dan 45 hanya merupakan angka-angka biasa tanpa ada arti apa-apa. Karena telah terjadi suatu peristiwa yang sangat penting didalam sejarah bangsa Indonesia dan umat manusia seluruh dunia, maka angka-angka tadi menjadi tanda lembaran baru dalam sejarah umat manusia dan dicatat dengan tinta emas dalam hati sanubari seluruh rakyat Indonesia
Kita mengenal angka-angka tersebut sejak detik-detik proklamasi 1945 ternyata setelah kita renungkan dan kita analisa: seluruh romantika, dinamika dan dialektika perjuangan bangsa indonesi secara tidak sadar diserahkan oleh DJIWA yang tersimpul dalam angka-angka keramat.
Dengan demikian hanya sejarahlah yang akan membuktikan sampai dimana eratnya hubungan antara bangsa Indonesia dengan angka 17, 8 dan 45 yang dianggap keramat.
Arti 17 Agustus
Setiap tahun menjelang hari 17 Agustus, suasana di seluruh tanah air berseri-seri, gembira. Kesibukan rutin terdesak oleh kegiatan untuk mensukseskan perayaan Nasional yang terbesar bagi kita.
Hari itu dirayakan semeriah-meriahnya yang dilakukan secara CONAMORE tanpa desakan darimana atau dari siapapun.
Setiap manusia Indonesia menjadi satu, tidak mengenal suku, agama, politik, golongan semua bersatu dengan satu tujuan : untuk merayakan hari proklamasi kemerdekaan dengan semeriah-meriahnya.
Terkenang kembali segala peristiwa yang bersejarah sebelum dan sesudah detik-detik Proklamasi.  Dirasakan lagi secara jelas semua penderitaan & pengorbanan ketika itu dan dikenang pula kawan-kawan seperjuangan yang telah  gugur sebagai tradisi kunjungan ke Makam Pahlawan yang disebut dengan RENUNGAN SUCI yang selalu di masukkan dalam acara yang khas yang dilakukan dengan penuh hikmat. Pengheningan cipta membulatkan kembali tekat kita  untuk tidak menyianyiakan pengorbanan para pahlawan bangsa dengan meneruskan perjuangannya untuk mencapai tujuan revolusi yang sekali dicetuskan harus terus diselesaikan.
Jadi angka keramat
Rangkaian angka (17-8-45) adalah suatu angka-angka biasa saja yang normal tanpa mempunyai sifat-sifat (sandi) yang menonjol atau luar biasa dalam ilmu matematika. Dalam kenyataan setiap tugu nasional, monument nasional lambang-lambang, panji-panji, dll sebagainya mempunyai bentuk-bentuk yang dijiwai oleh angka-angka 17, 8 dan 45 bahkan juga seluruh bahan rancangan dasar undang-undang pembangunan Nasional semesta berencana. Tahapan pertama delapan tahun dijiwai oleh angka-angka 17 (jilid) 8 (buku) 1945 (paragraf).
Sebetulnya banyak contoh-contoh yang dapat dikemukakan artinya angka keramat dalam WAY OF LIFE kita, sementara cukup kiranya pemberian contoh-contoh sekedar untuk penggambaran betapa tinggi tempat angka-angka 17, 8 dan 45 dalam pandangan masyarakat kita misalnya :Tugu Nasional 17 meter tinggi bersudut 8 berdiri diatas suatu kolam dengan 45 bunga teratai warna merah dan putih adalah suatu contoh panduan antara bentuk dan jiwa (isi).
Berbeda dengan monument nasional, maka bentuk-bentuk geografis dari tanah air kita jelas bukan ciptaan manusia. Walaupun betul batas-batas Indonesia telah diatur didalam  CONVENTION OF LONDON (1814) dan TREATY OF LONDON (1824) oleh orang-orang Inggris dan Belanda, namun agaknya tanpa disengaja dan diluar sadar, bentuk tanah air kita ternyata sangat menguntungkan.
Jangankan mereka, bahkan kita sendiri pun belum menyadari akan keuntungan dari bentuk Negara kita. Seolah-olah bangsa-bangsa eropa tadi telah digerakkan dan dikendalikan oleh suatu tenaga GHAIB, untuk justru memberikan bentuk-bentuk dan batas-batas seperti kita kenal disetiap peta sekolah dasar (dulu sekolah rakyat).
Sepintas lalu memang tidak nampak keanehan dan keajaiban geografis Nusantara kita, namun dengan mempergunakan “kacamata angka keramat” dapat dilihat dengan jelas betapa erat dan harmonis hubungannya antara geografis, demografi antara bentuk dan isi antara wadah dan Ideologi.
Tanah air yang cantik, indah dan ramah telah menggerakkan hati seorang kontrolir pamong praja Hindia Belanda pada abad ke XIX didaerah Banten bernama Dows DEKKER dengan nama samaran MULTATULI memberikan julukan “INSULINDE, DAT ZICH OM DE EVER NAAR SINGERT AIS EEN GORDEL VAN SMARAGD” benar bahwa : Kepulauan Indonesia yang melingkari sang katulistiwa bagaikan permata jamrud”.
Kata-kata monumental ternyata tidak hanya cantik dipandang mata tetapi juga ukuran-ukuran secara mengejutkan dipengaruhi oleh angka-angka keramat tadi. Dengan demikian bentuk tanah air kita bukan sembarangan bentuk, melainkan memang sudah ada yang menentukanNya secara obyektif dan exact dapat dibuktikan sbb:
  • PERTAMA : Adanya lintasan SANG CHATTULISTIWA diatas Indonesia yang memanjang dari barat ke timur serta terpanjang di seluruh dunia yakni  kira-kira SEPERDELAPAN dari lingkaran dunia = 5000 km (Lingkaran Dunia 40.000 Km & 5000 Km adalah seperdelapannya)
  • KEDUA : Lebar tanah air dari pulau MIANGAS  (TALAUD) 6° LU sampai ke pulau ROTE 11° LS adalah tepat 17° Sedangkan panjang dari pulau WEH (96° BT) sampai ke batas Irian Timur – Irian Barat (141° BT) adalah 45°. 45° adalah 1/8 dari sebuah lingkaran (8X45°) = 360° sungguh angka-angka tersebut menjiwai tanah air kita.
  • KETIGA : Kalau kita mengambil format (17X45) sebagai suatu segi empat dan tariklah dua garis diagonalnya dari keempat sudutnya, maka garis-garis tersebut akan saling memotong ditengah laut di selat Makasar dengan koordinat yang mengharukan (117° , 845° BT). Hilangkan angka pertama dan sisanya tanpa koma adalah angka-angka yang sangat kita cintai! KEBETULANKAH INI??? Selanjutnya titik itu kita sebut “PUSAT IBU PERTIWI” dan ini menarik sekali karena bukan di daratan tapi ditengah lautan. Apakah ini bukan suatu pertanda, bahwa Negara kita sesungguhnya adalah Negara MARITIM dan Bangsa Indonesia adalah Bangsa Pelaut atau umat BAHARI?
  • KEEMPAT : Pusat ibu pertiwi tersebut terletak didalam daerah hukum Daswati I KALIMANTAN SELATAN yang merupakan satu-satunya daerah swatantra I yang namanya terkini dari TUJUH BELAS HURUF . Agaknya tidak secara “kebetulan” Ibu Pertiwi menentukan pusatnya.
  • KELIMA : Bila pusat Ibu Pertiwi dihubungkan dengan gunung KRAKATAU, maka garis penghubung itu bila di sambung terus akan melintasi garis KATULISTIWA dengan sudut 17° , ini dapat ditafsirkan adanya hubungan antara gunung KRAKATAU dan Bangsa Indonesia sehingga ketika itu SOEKARNO dalam amanatnya pada Musyawarah Besar Front Nasional Seluruh Indonesia di Istora Jakarta pada Februari 1969 beliau katakana letusan Gunung Krakatau 1883 setaraf dengan ledakan PROKLAMASI KEMERDEKAAN 1945.
  • KEENAM : Bila Pusat Ibu Pertiwi kita hubungkan dengan CANDI BOROBUDUR maka sambungan garis penghubung akan melintasi sang KATULISTIWA dengan sudut 34° atau 2X17° seperti halnya GUNUNG KRAKATAU maka CANDI BOROBUDUR memberi pertanda adanya hubungan dengan angka-angka kramat (hubungan antara bangsa Indonesia dengan “TUMPUKAN BATU KERAMAT” di BOROBUDUR)
  • KETUJUH : Bila CANDI BOROBUDUR dan GUNUNG KRAKATAU dihubungkan, maka sambungan garis penghubung akan melintasi sang KATULISTIWA dengan sudut 17° ini menambah keyakinan kita akan perairan mereka dalam hubungannya melalui angka-angka keramat.
  • KEDELAPAN : Dari pusat ibu pertiwi ditarik garis dengan sudut 45° arah barat laut akan menuju ke BENUA ASIA TENGGARA menurut sejarah disinilah asal nenek moyang kita dizaman purbakala kira-kira 3400 th yang lalu.
  • KESEMBILAN : Apabila kota SABANG-MERAUKE kita hubungkan dengan satu garis lurus maka garis tersebut akan memotong sang katulistiwa kira-kira ditengah pulau Kalimantan dengan sudut 17° . Bila kita cermati maka angka 17 dan 45 erat hubungannya dan mempunyai arti dan symbol tersendiri, kedua symbol tadi ternyata sesuai sekali dengan apa yang dinyatakan presiden soekarno dalam GESURI bahwa istilah ”SABANG MERAUKE” bukanlah hanya sekedar suatu “NATIONAL ENTITY” satu kesatuan kebangsaan “STATE ENTITY” atau “IDIOLOGICAL ENTITY” namun bahkan suatu “ ENTITY OF SOCIAL – CONSCIOUSNESS LIKE A BURNING FIRE” suatu kesatuan cita-cita social yang hidup laksana api unggun.
Dengan kenyataan-kenyataan tadi, kiranya dapat disimpulkan bahwa bentuk geografis tanah air kita yang misterius, bukanlah suatu hasil sembarangan dari pada para conseptor CONVENTION & TREATY OF LONDON pada tahun 1814 dan 1824 melainkan suatu bentuk pemberian dan karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Telah dibuktikan tadi, bahwa bentuk geografis tanah air ternyata merupakan suatu paduan yang hidup dan harmonis dari pada materi dan jiwa bangsa Indonesia.
Mari kita cermati ROMANTIKA DINAMIKA PERJUANGAN INDONESIA dirumuskan ke dalam rangkaian angka-angka 17-8-1945.
Lambang Negara adalah “ BHINNEKA TUNGGAL IKA” didalamnya tersimpul ideology Negara “ PANTJA SILA” Bendera kebangsaan adalah “SANG MERAH PUTIH” lagu kebangsaan adalah “ INDONESIA RAYA”. Lambang Negara lagu kebangsaan dan bendera kebangsaan adalah TRI TUNGGAL lambang-lambang bangsa yang merupakan kristalisasi dari JIWA, SEMANGAT dan API PERJUANGAN BANGSA. Jika kita renungkan maka setiap Negara pada umumnya pada hakekatnya “BENDA DUA DEMENSI” sesuai dengan renungan itu, maka suatu benda DUA DEMENSI” dapat diukur dengan  cara tertentu. Cara yang paling mudah dan sederhana, walaupun agak menggelikan adalah hanya dengan MENGHITUNG JUMLAH HURUF yang terdapat dalam nama benda dua demensi itu. TERNYATA bahwa REPUBLIK INDONESIA terdiri dari 17 huruf menakjubkan bukan?
Sang 17 menjiwai nama Negara kita. Karena REPUBLIK INDONESIA adalah hanya alat maka alat perjuangan ini berada di tangan kita dan tidak mungkin dipegang oleh seluruh rakyat maka telah kita percayakan R.I. kepada seorang pemimpin yaitu BUNG KARNO dengan demikian maka beliau adalah Presiden Republik Indonesia sebagai manusia maka beliau berdemensi tiga untuk dapat diukur maka harus dirubah menjadi dua dimensi.
Tanda tangan tangan reuni dari BUNGKARNO yang sudah dibuat dua demensi adalah SOEKARNO dengan OE ejaan lama sehingga sadar atau tak sadar ternyata  tanda tangan itu terdiri dari DELAPAN HURUF (8 Huruf)
Beberapa keistimewaan angka 8 ini adalah terletak diantara 17 dan 45 (sebagai pemersatu) sebagaimana kita ketahui persatuan adalah alat yang ampuh untuk melawan musuh, selanjutnya BUNG KARNO adalah pemersatu dari seluruh RAKYAT INDONESIA.
Kalau angka sang 17 masuk kepada REPUBLIK INDONESIA yang dua dimensi dan sang 8 kepada BUNG KARNO yang di dua dimensikan maka Sang 45 harusnya masuk ke dalam benda satu dimensi (abstrak) yang juga di dua dimensikan.
Sesuai uraian diatas tadi sang 45 adalah simbul daripada SEMANGAT, IDEOLOGI dan KEJIWAAN (abstrak) maka kita ingat pada TRI TUNGGAL LAMBANG BANGSA yaitu ( bendera, lambang negara dan lagu kebangsaan).
Dengan demikian Sang 45 bukanlah lambang tunggal melainkan tri tunggal yang dalam bentuk dua dimensi.
1.      BHINNEKA TUNGGAL IKA   =          18  huruf
2.      SANG MERAH PUTIH               =          14  huruf
3.      INDONESIA RAYA                    =          13  huruf
Jumlah                         =          45  huruf
Demikianlah apa yang dapat kita sampaikan uraian-uraian diatas dengan istilah ANGKA KERAMAT maka dapat diambil kesimpulan bahwa rumusan ini tidak lain dari pada suatu SIMBOLIKA REVOLUSI yang monumental.
Tulisan ini adalah sekedar ringkasan dari beberapa buah buku yang pernah kami baca al :
  1. Dibawah bendera revolusi.
  2. Sejarah Indonesia
  3. Borobudur
  4. Sejarah Pergerakan Nasional
  5. Seratus tahun wafatnya Pangeran Diponegoro, dsb
Barangkali tidak begitu lengkap namun kiranya masyarakat perlu mengetahui, terlebih-lebih untuk generasi muda. Ada sebuah pepatah mengatakan :
“ Manusia memang tidak mengetahui semua hal, namun setiap manusia perlu mengetahui apa yang patut diketahui”.
Bertitik tolak dari pepatah tadi maka, kami sampaikan tulisan ini untuk sekedar dapat dijadikan renungan bagi masyarakat khususnya bagi generasi mudanya mengingat bahwa : Untuk mencari buku yang kuno-kuno susah di dapat apalagi membacanya dan tidak setiap orang berkesempatan membacanya.
Semoga  tulisan yang jauh dari sempurna ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita semua.